

Seorang temanku, jelang akhir tahun 2006 lalu memutuskan menjadi seorang Rahib di San Benedetto, Norcia, Italia. Teman yang selalu enak diajak bicara, rendah hati, tertib, penolong, cerdas, talented, dan punya minat yang sama denganku. Dulu, aku suka sharing padanya dan minta pendapatnya. Meski sering berselang lama tak bertemu, namun selalu easily mengungkapkan segala hal dengannya. Aku sedikit kaget dengan keputusannya untuk mendedikasikan seluruh hidupnya menjadi seorang Rahib di satu Biara Santo Bennediktus, di Norcia. Jauh sekali. Tapi dia emang punya kualitas untuk menjadi Rahib. Niat bertemu dengannya menjelang kepergiannya juga tak sempat terlaksana. Aku hanya merasa akan kehilangan kehangatan perhatian dari seorang teman yang sangat ku apresiet. Tak akan banyak waktu lagi untuk saling berbagi pemikiran dan pendapat. I missed him anyway. Beberapakali sempat menyapanya lewat messenger. Namun tak banyak lagi waktu terbagi. Dan pagi ini kutrima imil ucapan salam natalnya yang mungkin terasa lambat. Namun itu membuat aku mengenangnya sesaat. God be with you my friend....
Pax!
Di hari terakhir masa Natal ini, saya ucapkan salam Natal dan Tahun Baru dari kota kelahiran Santo Benediktus, Norcia, Italia.
Terima
kasih atas segala kiriman ucapan, berita, dan lain-lain dari kapanpun juga yang belum terbalas. Mohon maaf dan maklum sebesar-besarnya, karena sebagai rahib saya tidak punya banyak kesempatan berkorespondensi. Di tahun ini “kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya” (Mazmur 67:2).
In Domino,
Di hari terakhir masa Natal ini, saya ucapkan salam Natal dan Tahun Baru dari kota kelahiran Santo Benediktus, Norcia, Italia.
Terima
kasih atas segala kiriman ucapan, berita, dan lain-lain dari kapanpun juga yang belum terbalas. Mohon maaf dan maklum sebesar-besarnya, karena sebagai rahib saya tidak punya banyak kesempatan berkorespondensi. Di tahun ini “kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya” (Mazmur 67:2).
In Domino,
www.osbnorcia.org

2 comments:
wah...pujian itu apa nggak terlalu tinggi. karena di sini ada kesempatan bongkar2 mesin diriku, aku menemui bahwa ada banyak kerusakan dan kebobrokan dalam diriku. aku menyadari bahwa diriku lebih buruk dan jahat daripada yang kukira atau yang dilihat orang. Dan hidup di sini nggak terlalu tenang2 amat. Sama juga seperti di rumah tangga, setiap hari ada kerja, ada masalah, ada konflik, ada penyelesaian. Kami lagi sibuk karena mau pindah rumah ke luar kota. Mau menempati biara baru di salah satu bukit2 itu....
Itulah sisi dirimu yang tertangkap olehku. Di hadapan Tuhan, tak seorangpun yang sempurna. Seringkali kita sendiri kurang menyadari kulit luar kita tak paralel dengan yang ada di dalam. Mengenali dan mengakui keburukan2 kita sebenarnya sebuah langkah maju untuk mengalami Tuhan, lebih intim bersama Tuhan. Hanya dengan mengosongkan diri, dan dengan kekudusan kita bisa masuk lebih dalam lagi..Hope you tetap dalam lindungan kasihNya my friend...
Stai bene:-)
Post a Comment