Kemarin, secara kebetulan sempat bertemu beberapa sepupuku di Jakarta. Dan mendapat cerita menarik dari mereka. Sebuah testimonial tentang almarhum ayahku. Aku sangat excited mendengar cerita ini. Karena ingatan akan ayah sudah banyak terhapus waktu, mengingat beliau telah lama berpulang ke rumah Bapa.Mereka bercerita pernah bertemu satu ibu (family dari calon menantunya) yang mengenal baik keluarga kami sejak dulu. Lalu secara kebetulan dalam perbincangan mereka berbagi cerita tentang satu keluarga yang sama-sama mereka kenal, keluarga kami.
Sang ibu (Ny. Simatupang-Togatorop--mama Jetty) itu bercerita:
Aku mengenal keluarga Siagian dengan baik, ayah ibu dan semua anak-anaknya. Kami tinggal berdekatan, di lingkungan pemukiman yang sama. Almarhum ayahnya baik dan bijaksana, dan sangat disegani semua orang. Sayangnya dia cepat berpulang.
Dahulu, setiap ada permasalahan di lingkungan kami, ayahnya lah yang dipanggil untuk menjadi juru damai. Dia memang bijaksana.
Pernah satu ketika, kami bertengkar dengan seorang tetangga hanya karena seekor entok (sejenis itik) yang kami perebutkan. Masing-masing kami bersikeras mempertahankan seekor entok yang sama, yang kami akui sebagai milik kami.
Keributan itu cepat ditengahi Amang (Bapak) Siagian. Dia lalu mengambil entok itu, dan pergi ke pasar. Di sana ia membeli dua ekor entok lain. Lalu kembali. Satu diberikan pada kami, yang satu lagi pada tetangga kami itu. lalu entok yang menjadi sumber pertengkaran dia berikan juga, sambil berkata, "Loppa hamu ma entok on, asa adong sipanganonta" artinya "masaklah entok ini, dan makanlah bersama-sama".
Aku terkesima mendengar testimoni tentang ayahku ini. Sebuah kutipan kejadian yang begitu jelas digambarkan ibu itu dan belum pernah kudengar sebelumnya. Aku terharu bisa mengenang almarhum ayahku lagi saat ini. Sudah lama aku tahu Ayahku memang seorang yang baik dan bijaksana. Sayang, dia telah pergi saat belum satu orang pun anaknya beranjak dewasa. Kenangan bahwa dia yang acap dipanggil menengahi permasalahan di lingkungan kami dulu juga masih sayup kuingat. Malah dalam partangiangan di lingkungan kami, beliau sering pula diminta menyampaikan pesan Firman Tuhan. Sekalipun bukan seorang majelis gereja atau sintua. Beliau memang rajin membaca firman, dan buku lainnya untuk memperluas pengetahuan dan wawasan.
Aku jadi teringat lagi. Ayahku juga sangat rajin meletakkan landasan iman dalam hidup keluarga kami. Setiap malam dia sering mengajak kami membaca dan merenungkan "Bohal Partondion" nya yang tebal atau "Bekal Iman", sekarang lazim disebut saat teduh. Dahulu peristiwa itu masih kurasakan sebagai pemaksaan karena aku belum mengerti. Namun, berjalannya waktu membuatku justru mendambakan saat itu bisa terulang kembali. Aku rindukan momen-momen yang tak akan pernah terulang lagi. Dan, aku pun rindu spirit persatuan dan perdamaian yang pernah diteladankan Ayah itu bisa hadir lagi dalam keluarga kami. Aku merindukan itu...yang entah kenapa belakangan sedikit terkoyak oleh perselisihan-perselisihan kecil di antara kami anak-anaknya.
Ah kakak-kakak dan adikku....ayo bergandeng tangan. Rekatkan kasih di antara kita. Mari kita kembali pada semangat perdamaian yang pernah diajarkan dan di teladankan Ayah dahulu. Jangan mau ada perpecahan apapun juga. Mari rekatkan dengan semangat Kasih. Kasih yang sempurna yang selalu ingin memberi yang terbaik. Jangan lupakan dan putuskan kisah ini...yang mengingatkan teladan kasih, teladan perdamaian, dari almarhum Ayah tercinta.
Tuhan...persatukan kami dalam tali KasihMU..........
Ayah...engkau selalu ada dihatiku..

No comments:
Post a Comment