I wanna share this story with all of my friends. Somebody had forwarded it to me, and my turn now to share this good story for you....enjoyMenawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis. Dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah.
"Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."
"Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita."
Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.
So enjoy your day and work and keep make relationship with others :)

3 comments:
Tulisan yg bagus sekali cukup mengena dan realistis.
Walaupun demikian kita tetap saja sering melupa dan manusia lebih cenderung akan memilih cangkir daripada kopinya. Yaitu pada saat kita diatas dalam kemenangan maka kita akan lebih mempertahankan sang Cangkir,kendati kualitas kopi sudah burukpun kita tetap mempertahankan sang cangkir karena dalam pikiran kita berkata kualitas kopi masih bisa aku carikan yg terbaik. Kenapa bisa demikian? karena kita ada diatas kemenangan dimana disana kita merasa banyak berkat jangankan kopi mungkin pembuat kopipun kita merasa mampu beli.
Sebaliknya pada saat kita rendah maka kita merasa tdk bisa berbuat apa2,kita tdk dapat membeli cangkir yg indah atau mahal,sementara semua org tahu jika kita rendah dan tdk bisa berbuat banyak justru disitulah kondisi penuh kepasrahan yg membuat kita lebih memilih sang kopi. Sayangnya walaupun memilih sang kopi setelah lepas dari jeratan kekalahan itu maka kita kembali akan lebih memilih cangkirnya , itu terjadi karena kita tidak perna mau memahami betapa ada Hikmat disana , di modern ini hikmat itu kecil nilainya karena Dunia lebih mahal harganya..kalo menurut saya di MODERN ini mungkin agak berbeda dgn Profesor itu yakni Saat ini .......bersambung(maaf lagi banyak kerjaan)
Cerita ini menyadarkanku, betapa kita seringkali lupa apa yang menjadi kebutuhan utama atau mendasar dalam hidup. Seringkali kualitas hidup yang kita kejar hanyalah hanya demi memenuhi kemasan-kemasan luar yang sebenarnya tidak lebih penting dari kehidupan itu sendiri.
Demi mencari kepuasan (yang tak pernah terpenuhi karena selalu ingin lebih puas dan lebih lagi) seseorang seringkali mempertaruhkannya dengan minimnya waktu yang di share untuk sesama, keluarga, gampang marah, jarang dirumah (misalnya), dll. Mencari kepuasan agar lebih puas dan lebih puas lagi telah menjadi lingkaran setan jika kita tidak mau melihat kembali apa yang menjadi tujuan dasar kita dalam menjalani kehidupan ini.
Post a Comment