Whatever happen in my LIFE.......... GOD please help me to remember that nothing happen in this world that we can not handle TOGETHER

Friday, January 18, 2008

NIKMATILAH KOPINYA ,... BUKAN CANGKIRNYA

I wanna share this story with all of my friends. Somebody had forwarded it to me, and my turn now to share this good story for you....enjoy

Sekelompok alumni University California of Berkeley yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stess di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis. Dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah.

Dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan :

"Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."

"Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain."

"Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita."

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya.

Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan anda. Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup anda, anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan.

Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.

So enjoy your day and work and keep make relationship with others :)

3 comments:

Anonymous said...

Tulisan yg bagus sekali cukup mengena dan realistis.
Walaupun demikian kita tetap saja sering melupa dan manusia lebih cenderung akan memilih cangkir daripada kopinya. Yaitu pada saat kita diatas dalam kemenangan maka kita akan lebih mempertahankan sang Cangkir,kendati kualitas kopi sudah burukpun kita tetap mempertahankan sang cangkir karena dalam pikiran kita berkata kualitas kopi masih bisa aku carikan yg terbaik. Kenapa bisa demikian? karena kita ada diatas kemenangan dimana disana kita merasa banyak berkat jangankan kopi mungkin pembuat kopipun kita merasa mampu beli.
Sebaliknya pada saat kita rendah maka kita merasa tdk bisa berbuat apa2,kita tdk dapat membeli cangkir yg indah atau mahal,sementara semua org tahu jika kita rendah dan tdk bisa berbuat banyak justru disitulah kondisi penuh kepasrahan yg membuat kita lebih memilih sang kopi. Sayangnya walaupun memilih sang kopi setelah lepas dari jeratan kekalahan itu maka kita kembali akan lebih memilih cangkirnya , itu terjadi karena kita tidak perna mau memahami betapa ada Hikmat disana , di modern ini hikmat itu kecil nilainya karena Dunia lebih mahal harganya..kalo menurut saya di MODERN ini mungkin agak berbeda dgn Profesor itu yakni Saat ini .......bersambung(maaf lagi banyak kerjaan)

Hadassah said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...

Cerita ini menyadarkanku, betapa kita seringkali lupa apa yang menjadi kebutuhan utama atau mendasar dalam hidup. Seringkali kualitas hidup yang kita kejar hanyalah hanya demi memenuhi kemasan-kemasan luar yang sebenarnya tidak lebih penting dari kehidupan itu sendiri.
Demi mencari kepuasan (yang tak pernah terpenuhi karena selalu ingin lebih puas dan lebih lagi) seseorang seringkali mempertaruhkannya dengan minimnya waktu yang di share untuk sesama, keluarga, gampang marah, jarang dirumah (misalnya), dll. Mencari kepuasan agar lebih puas dan lebih puas lagi telah menjadi lingkaran setan jika kita tidak mau melihat kembali apa yang menjadi tujuan dasar kita dalam menjalani kehidupan ini.