Nama saya Bandia bukan Pandia Siang itu udara terasa agak gerah, namun sebagaimana biasa setiap sabtu siang, kami sudah bersiap-siap menyambut tamu-tamu Tuhan di ibadah tunawisma di Gedung Yayasan Kasih Bersaudara (YKB)
Sejak peristiwa itu, beberapa waktu kami ramai memperbincangkan keinginan ibu Pandia di milis.
Sayangnya, solidaritas yang muncul di antara kita sontak menyurut lagi karena ibu Pandia pun raib entah ke mana, tak pernah muncul lagi. Konon ia tidak lagi menumpang di bedeng-bedeng di kolong jembatan itu. Entah kemana ia pergi, tak ada yang perduli?
Setahun lamanya kehilangan jejak beliau, tak heran munculnya ibu Pandia sore itu membuat ingatan setahun lalu meruak kembali.
Seusai kebaktian, kucoba mengajak ibu Pandia berbincang-bincang, seraya bertanya tentang keberadaannya selama ini. Kami mengobrol sembari mengamati Ucok kecil yang sedang mengikuti kelas Sekolah Sabtu, kebaktian anak. "Ibu Pandia…Ucok sudah besar ya sekarang," celutukku seraya mengamati Ucok yang sedang tertawa riang mewarnai aktifitas sekolah sabtu.
"Ya…betul tahun lalu dia masih kelihatan kurus dan kecil, banyak orang nggak percaya kalau dia Ucok yang sakit-sakitan dulu"
"Ibu Pandia sejak kapan tinggal di
"Ha...bukan, dulu saya memang pernah kerja dan hidup di Sumatera, di Jambi.
"Lho..kenapa ibu pakai nama Pandia, itu
"Nama saya BANDIA…..Be…bukan Pandia..wong saya itu orang Jawa, asal saya dari Yogya kok".
Sembari menutupi rasa malu karena telah salah sangka, saya menggumam lirih "Ooooh…"
Cepat ia mengimbuhi lagi, "nah…Ucok itu memang orang Batak."
"Haaa….kok bisssa bu, bukankah Ucok anaknya Ibu?" tanyaku terbata.
"Bukan, dia bukan anak saya sendiri, saya memang merawatnya sejak ia lahir, tapi ibu bapaknya orang Batak, dari Borong-borong (mungkin maksudnya
" Lalu, ibu bapaknya di mana sekarang?"
"Ngga taulah.."
"Ibu sekarang tinggal di mana?"
"Di Pedongkelan dekat Kelapa Gading, sewa rumah petak"
"Ibu kerja apa saja sekarang?"
"Ngamen di prapatan jalan dekat situ, mangkal. Kalau capek aku suruh si Ucok menggantikanku nyanyi. Nyanyinya cuma bisa dua lagu, Heppi ye ye ye ye dan Dengar Dia Panggil Nama Saya" (sembari beliau menyanyikan lagu itu dengan suara sumbang dan nada yang berantakan). "Apa Ibu nggak kepingin kerja, misalnya membantu pekerjaan rumah tangga?"
"Wah, suka nggak cukup, si Ucok itu
"Memangnya kalau ngamen dapat berapa sehari?"
"Empat puluh atau
"Wah lumayan juga ya…"
"Ya, cuma saya itu suka malas kalau sudah dapat segitu. Saya bisa dua tiga hari tidak mengamen, di rumah saja"
Perbincangan itu pun usai seiring dengan selesainya ibadah Sekolah Sabtu untuk anak. Ibu Bandia dan Ucok pun bergegas pulang.
Tinggallah saya yang masih tercenung panjang, ingat akan realitas orang-orang terpinggirkan di
Saat terbersit pula keinginan untuk coba "memanusiakan" mereka, misalnya dengan mencari tempat bernaung yang aman atau mencarikan pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga (misalnya): bukankah terbukti hanya akan mengekang ekspresi mereka sebagai pribadi merdeka? Bukankah sudah jelas upah sebesar tiga atau empat ratus ribuan sebulan itu tidak sebanding dengan penghasilan yang bisa mereka raup di jalanan—empat-lima puluh ribu sehari ditambah dengan kemerdekaan diri yang tetap menjadi hak mereka seutuhnya?
Bagaimana cara kita mengubah cara pandang mereka agar terbebas dari jalanan dan menjalani hidup yang lebih "layak", lebih "manusiawi"? Bagaimana kepedulian kita? Apakah kita cukup berdiam diri dengan potret yang terpampang di pelupuk mata? Cukupkah dengan khotbah tentang hidup yang benar seminggu sekali? Atau adakah bentuk pendampingan lain?
Dan, aku masih saja termangu….
Sayup-sayup terngiang satu suara, semakin lama semakin nyata dan semakin jelas terdengar: "………segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"
Aku masih saja termangu panjang…
Esther LS
Akhir Mei 2004

No comments:
Post a Comment