Whatever happen in my LIFE.......... GOD please help me to remember that nothing happen in this world that we can not handle TOGETHER

Thursday, January 10, 2008

Potret realitas Kemiskinan Kota

Nama saya Bandia bukan Pandia

Siang itu udara terasa agak gerah, namun sebagaimana biasa setiap sabtu siang, kami sudah bersiap-siap menyambut tamu-tamu Tuhan di ibadah tunawisma di Gedung Yayasan Kasih Bersaudara (YKB) Jakarta. Tiba-tiba seorang ibu—mengenakan daster bermotif bunga yang sudah usang—masuk tergesa seraya membimbing seorang bocah kecil yang juga dekil. Ingatan terhadap ibu ini menyentak sesaat, lalu keluar seruan: 'apa kabar Ibu Pandia, sudah lama tidak datang, kemana saja selama ini?' Sedikit bingung ia menjawab seadanya, 'Yaa…saya juga baru diberitahu orang-orang kalau tempat ibadah sudah pindah ke sini, kan saya tidak tinggal di kolong lagi,' katanya.

Sesaat kenangan itu melintas di ingatan. Setahun lalu, seusai ibadah anak-anak yang diadakan di kolong jembatan kereta api di Cikini, ibu ini datang berkeluh kesah sambil tersedu. Ia bercerita tentang kesulitannya membesarkan Ucok yang masih kecil. Saat itu, Ucok sedang terserang batuk dan demam. Ia mengungkapkan kesulitannya bertahan hidup di jalanan dan merasa risau dengan pendidikan Ucok kelak. Ia pun memohon agar dibantu untuk menitipkan anak tersebut ke panti asuhan supaya pendidikan dan masa depannya lebih terjamin.
Sejak peristiwa itu, beberapa waktu kami ramai memperbincangkan keinginan ibu Pandia di milis. Ada yang mencoba mencarikan kesempatan pekerjaan untuk ibu itu sebagai pramuwisma di rumah temannya, beberapa teman lain mencoba mencari informasi tentang alternatif panti asuhan yang mungkin bisa menampung bocah kecil itu.
Sayangnya, solidaritas yang muncul di antara kita sontak menyurut lagi karena ibu Pandia pun raib entah ke mana, tak pernah muncul lagi. Konon ia tidak lagi menumpang di bedeng-bedeng di kolong jembatan itu. Entah kemana ia pergi, tak ada yang perduli?
Setahun lamanya kehilangan jejak beliau, tak heran munculnya ibu Pandia sore itu membuat ingatan setahun lalu meruak kembali.
Seusai kebaktian, kucoba mengajak ibu Pandia berbincang-bincang, seraya bertanya tentang keberadaannya selama ini. Kami mengobrol sembari mengamati Ucok kecil yang sedang mengikuti kelas Sekolah Sabtu, kebaktian anak. "Ibu Pandia…Ucok sudah besar ya sekarang," celutukku seraya mengamati Ucok yang sedang tertawa riang mewarnai aktifitas sekolah sabtu.
"Ya…betul tahun lalu dia masih kelihatan kurus dan kecil, banyak orang nggak percaya kalau dia Ucok yang sakit-sakitan dulu"
"Ibu Pandia sejak kapan tinggal di Jakarta, asalnya dari Sumatera kah, dari Karo ya?"
"Ha...bukan, dulu saya memang pernah kerja dan hidup di Sumatera, di Jambi. Ada rumah petak cuma nggak kerasan di sana. Aku ketemu anakku laki-laki, yang sudah besar, sekalipun sudah 16 tahun tak bertemu. Tapi ya katanya anak, kuterima saja sekalipun lupa-lupa ingat. Cuma belakangan nggak tahan soalnya anak itu suka bawa teman anak-anak muda ke rumah jadi saya pergi tinggalkan rumah dan hidup di jalanan." Ia berkisah lebih jauh kalau pernah kawin beberapa kali, tapi cerai, anak-anaknya entah di mana ia pun kurang tahu.
"Lho..kenapa ibu pakai nama Pandia, itu kan salah satu marga dari Suku Karo di Sumatera Utara, dan anak itu disebut dengan Ucok pula?"
"Nama saya BANDIA…..Be…bukan Pandia..wong saya itu orang Jawa, asal saya dari Yogya kok".
Sembari menutupi rasa malu karena telah salah sangka, saya menggumam lirih "Ooooh…"
Cepat ia mengimbuhi lagi, "nah…Ucok itu memang orang Batak."
"Haaa….kok bisssa bu, bukankah Ucok anaknya Ibu?" tanyaku terbata.
"Bukan, dia bukan anak saya sendiri, saya memang merawatnya sejak ia lahir, tapi ibu bapaknya orang Batak, dari Borong-borong (mungkin maksudnya kota Siborong-borong di Tapanuli Utara). Nama ibunya Rosida. Sejak hamil ia bilang mau beri anak itu pada saya. Jadi waktu lahir, suster yang merawatnya membawa orok itu pada saya sembari bilang. 'Ini si Ucok sudah lahir'. Sejak itu namanya dipanggil Ucok saja"
" Lalu, ibu bapaknya di mana sekarang?"
"Ngga taulah.."
"Ibu sekarang tinggal di mana?"
"Di Pedongkelan dekat Kelapa Gading, sewa rumah petak"
"Ibu kerja apa saja sekarang?"
"Ngamen di prapatan jalan dekat situ, mangkal. Kalau capek aku suruh si Ucok menggantikanku nyanyi. Nyanyinya cuma bisa dua lagu, Heppi ye ye ye ye dan Dengar Dia Panggil Nama Saya" (sembari beliau menyanyikan lagu itu dengan suara sumbang dan nada yang berantakan). "Apa Ibu nggak kepingin kerja, misalnya membantu pekerjaan rumah tangga?"
"Wah, suka nggak cukup, si Ucok itu kan suka jajan. "
"Memangnya kalau ngamen dapat berapa sehari?"
"Empat puluh atau lima puluh ribu"
"Wah lumayan juga ya…"
"Ya, cuma saya itu suka malas kalau sudah dapat segitu. Saya bisa dua tiga hari tidak mengamen, di rumah saja"
Perbincangan itu pun usai seiring dengan selesainya ibadah Sekolah Sabtu untuk anak. Ibu Bandia dan Ucok pun bergegas pulang.
Tinggallah saya yang masih tercenung panjang, ingat akan realitas orang-orang terpinggirkan di Jakarta ini. Bagaimana cara kita mengulurkan tangan untuk mengurai persoalan Bandia-Bandia lain yang terserak di sekitar Jakarta?Betapa kompleks permasalahannya. Ada soal hilang atau hancurnya nilai-nilai "keluarga" yang sering diagung-agungkan dalam standar manusia "beradab", apalagi "beragama".
Ada soal pemanfaatan anak bawah umur demi mencari sesuap nasi. Di sisi lain ada sentuhan rasa kasih dari seorang Ibu yang rela mengasuh anak terbuang sekalipun ia sendiri terbuang dari masyarakatnya.
Saat terbersit pula keinginan untuk coba "memanusiakan" mereka, misalnya dengan mencari tempat bernaung yang aman atau mencarikan pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga (misalnya): bukankah terbukti hanya akan mengekang ekspresi mereka sebagai pribadi merdeka? Bukankah sudah jelas upah sebesar tiga atau empat ratus ribuan sebulan itu tidak sebanding dengan penghasilan yang bisa mereka raup di jalanan—empat-lima puluh ribu sehari ditambah dengan kemerdekaan diri yang tetap menjadi hak mereka seutuhnya?
Bagaimana cara kita mengubah cara pandang mereka agar terbebas dari jalanan dan menjalani hidup yang lebih "layak", lebih "manusiawi"? Bagaimana kepedulian kita? Apakah kita cukup berdiam diri dengan potret yang terpampang di pelupuk mata? Cukupkah dengan khotbah tentang hidup yang benar seminggu sekali? Atau adakah bentuk pendampingan lain?
Dan, aku masih saja termangu….
Sayup-sayup terngiang satu suara, semakin lama semakin nyata dan semakin jelas terdengar: "………segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"
Aku masih saja termangu panjang…

Esther LS

Akhir Mei 2004

No comments: